Skip to main content

Pesona Candi Sambisari, Kemegahan di Bawah Permukaan Tanah


Hai gengs bertemu lagi dengan gue di CritoJeje, blog yang berisi tentang jurnal perjalanan gue ke lokasi-lokasi seru yang pastinya sayang banget kalau kalian ga membacanya.
Kali ini gue masih mengajak kalian untuk jalan-jalan di Yogyakarta. Sebelumnya gue mengajak kalian untuk menikmati sunset di Candi Ijo, nah di jurnal kali ini, gue akan mengajak kalian untuk berwisata sejarah lagi ke sebuah Candi yang lokasinya tidak jauh dari tempat gue menginap di sekitaran Bandara Adi Sucipto. Nama candi tersebut adalah Candi Sambisari.
Mungkin mendengar kata Candi Sambisari masih terdengar asing di telinga kalian. Apalagi untuk bisa tahu lokasinya. Wajar saja Candi Sambisari tidak begitu terkenal jika dibandingkan dengan candi-candi sekitar seperti Candi Prambanan, Candi Ijo, atau Candi Ratu Boko. Hal ini dikarenakan lokasi Candi Sambisari yang berada di sekitar pemukiman warga dan masih minimnya informasi mengenai Candi Sambisari ini.
Gue sendiri tahu Candi Sambisari setelah browsing dan menanyakan lokasi pastinya ke cleaning service tempat gue menginap. Ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat menginap sekitar 10 menit bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Lokasi Candi Sambisari berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Untuk bisa mencapai lokasi Candi Sambisari, kalian cukup mengikuti jalan raya Jogja – Solo, setelah melewati Bandara Adi Sucipto kurang lebih 500 meter-an silahkan berbelok ke kiri (patokan gue waktu itu adalah toko meubel tepat di belokannya).
Dari informasi yang gue dapat, Candi Sambisari ini merupakan candi Hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada zaman Mataram Kuno. Candi Sambisari sendiri ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966 dan dipugar oleh Dinas Purbakala di tahun 1986. Nama Sambisari pun diambil dari nama desa dimana lokasi candi ditemukan.

Menurut gue Candi Sambisari ini merupakan candi yang sedikit berbeda dengan candi-candi Hindu yang pernah gue kunjungi. Bukan dari bentuk bangunannya melainkan dari posisi Candi Sambisari yang terletak kira-kira 7 meter di bawah permukaan tanah. Mungkin sebenarnya candi ini ga berada di bawah permukaan tanah seperti sekarang saat di bangun dulu. Pemikiran gue candi ini mungkin tertimbun semakin dalam karena bencana alam seperti tanah longsor, gempa atau letusan gunung berapi. Tapi ya itu hanya sekedar pemikiran gue belaka sih hehehe.
Sekitar pukul 16.10 gue tiba di lokasi. Area Candi Sambisari tidak terlalu luas, bahkan jika gue bandingkan dengan Candi Ijo, masih luas Candi Ijo. Tidak banyak pengunjung yang datang ketika gue berkunjung. Untuk bisa masuk ke Candi Ijo, gue dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 sebagai wisatawan lokal sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan tarif Rp 10.000 per kepala.

Saat menaiki tangga pintu masuk candi utama, gue menjumpai hiasan berupa singa yang berada di dalam mulut makara (hewan dalam mitologi Yunani). Di Candi Sambisari ini gue juga melihat arca-arca seperti arca Dewi Durga dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata, lalu terdapat juga arca Ganesha dan arca Agastya dengan tasbih yang dikalungkan di lehernya.

Candi Sambisari ini memiliki satu bangunan candi utama dan tiga bangunan candi kecil. Ketika gue masuk ke dalam candi utamanya, gue melihat lingga dan yoni yang bentuknya mirip seperti di Candi Ijo. Dari informasi yang gue dapat Candi Sambisari ini merupakan candi yang dipakai sebagai pemujaan Dewa Syiwa.

Asyik berkeliling area candi tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.40. Semakin sore penduduk sekitar banyak yang masuk ke area candi sekedar untuk mengajak anak-anaknya bermain dan juga terdapat beberapa wisatawan lokal dan asing tentunya. Di lokasi Candi Sambisari ini tentu kita bisa mengambil foto untuk dijadikan stock upload di sosial media. Sebenarnya jika candi ini tidak terletak di bawah permukaan tanah dan tidak berada daerah pemukiman warga, kita bisa menikmati sunset juga loh gengs. Oh iya di area dalam candi juga ada museum mininya loh. Jadi ngga akan rugi kok kalau kalian berkunjung ke lokasi ini untuk mendapatkan edukasi sejarah.



Buat kalian yang tertarik mengunjungi Candi Sambisari, kalian bisa mencarinya di Google Maps karena Candi Sambisari ini sudah terdaftar di Google Maps.

Berikut sedikit tips dari gue kalau kalian ada rencana untuk ke Candi Sambisari:
1. Harga tiket masuk Candi Sambisari sebesar Rp 5.000 untuk wisatawan lokal sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan biaya Rp 10.000.
2. Tiket parkir untuk kendaraan roda dua dikenakan tarif Rp 2.000. Area parkir memanfaatkan lahan / pelataran rumah warga sekitar.
3. Di lokasi Candi Sambisari terdapat tempat makan bernama Soto Bathok, dengar-dengar sotonya enak gengs. Jadi setelah capek menikmati wisata sejarah di candi bisa langsung wisata kuliner. Saat gue kesana, tempat makan Soto Batho ini sudah tutup (maklum datangnya ke sorean).
4. Sebenarnya di lokasi bisa menikmati suasa sunset, tapi tidak bisa benar-benar menikmati matahari tenggelam sampai batas horizon yah gengs.
5. Tetap jaga kebersihan yah gengs. Jangan membuang sampah sembarangan dan jangan lakukan vandalisme di area candi.
Sekian dulu cerita gue kali ini untuk menikmati keunikan Candi Sambisari. Untuk kalian yang ingin tahu keseruan gue lainnya, silahkan follow Instagram gue di sini.
Sampai ketemu di jurnal gue berikutnya. Salam traveler!!

Comments

Popular posts from this blog

Sanghyang Heuleut, Surga Tersembunyi di Bandung Barat

Bandung. Apa yang terbesit di pikiran kalian ketika mendengar kata tersebut? Kulinernya? Cewe-cewenya yang geulis-geulis (cantik)? Atau terpikirkan sesuatu yang lain? Bandung selain dikenal dengan wisata kulinernya juga terkenal dengan wisata-wisata alam yang cantik-cantik loh gengs. Salah satu tempat wisata tersebut bernama Sanghyang Heuleut yang bakal gue ceritain melalui tulisan ini. Sabtu (21/7) pagi sekitar pukul 05.30 bersama temen gue bernama Waldo bergegas menuju lokasi Sanghyang Heuleut di Kabupaten Bandung Barat. FYI gengs, Waldo temen gue ini rela-relain dari Bogor ke Bandung Jum’at malam gara-gara ngeliat stories Instagram gue, kalau gue mau ke Sanghyang Heuluet. Ini baru traveler sejati hahahaaa… Perjalanan menuju Sanghyang Heuleut gue tempuh kurang lebih 2 jam dari kosan gue yang berada di daerah Cikutra Bandung. Estimasi 2 jam karena pasti ga akan macet dijalan. Gue dan Waldo emang berangkat pagi-pagi dan menggunakan kendaraan roda dua. Sebenarnya gue sendiri kuran...

Menikmati Senja dan Sunset di Candi Ijo

Langkah kaki membawa gue ke Yogyakarta. Sebuah kota yang penuh dengan senyum serta keramah tamahan. Selamat datang di Yogyakarta. ++++ Hi gengs, pada postingan kali ini gue akan mengajak kalian semua untuk menikmati kota Jogja. Siapa sih yang ga tahu kota ini. Jogja merupakan salah satu lokasi yang harus masuk ke bucket list kalian. Di kota ini banyak sekali lokasi-lokasi wisata yang seru dan tentunya Instagram-able banget. Mau wisata kuliner, budaya, sejarah atau alam semua ada di Jogja loh gengs dan kesempatan ini gue akan mengajak kalian untuk menikmati indahnya sunset di Candi Ijo, Yogyakarta. Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kira-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram (Wikipedia). ++++ Sekitar pukul 15.30 bergegaslah gue dari guest hous...